Diet Telur Rebus: Manfaat dan Efek Sampingnya

 

Diet telur rebus merupakan salah satu diet rendah kalori dan karbohidrat tetapi tinggi protein. Diet ini dimaksudkan untuk membantu menurunkan berat badan dengan tetap menjaga asupan protein yang dibutuhkan tubuh untuk membangun otot. Sebagaimana namanya, diet ini menekankan konsumsi telur rebus sebagai sumber utama protein.

Meskipun ada beberapa versi, namun semua versi hanya membolehkan minum air putih atau minuman tanpa kalori. Tidak boleh makan makanan tinggi karbohidrat dan gula alami, seperti buah-buahan yang manis. Diet ini biasanya berlangsung selama 14 hari. Anda hanya makan sarapan, makan siang, dan makan malam. Tidak ada makanan ringan, selain air putih atau minuman tanpa kalori lainnya.

Manfaat  Diet Telur Rebus

Dalam jangka pendek, diet telur rebus efektif untuk menurunkan berat badan. Namun demikian diet ini bukanlah cara paling efektif untuk menurunkan berat badan secara konsisten. Dalam jangka panjang ia akan kesulitan untuk terus melakukan diet tersebut karena keterbatasan asupan karbohidrat.

Efek Samping

diet telur rebusEfek samping yang banyak dirasakan adalah badan terasa lemas karena kurangnya asupan karbohidrat. Karbohidrat yang rendah akan menyulitkan sistem pencernaan untuk menyesuaikan diri. Biasanya seseorang akan mengalami mual, konstipasi, perut kembung, dan bau mulut.

Karena telur tidak mengandung serat, Anda harus berhati-hati memasukkan makanan lain yang memiliki jumlah cukup. Dengan cara ini, Anda tidak akan merusak fungsi usus untuk sementara waktu atau membuat bakteri usus Anda kelaparan. Mengonsumsi serat yang cukup setiap hari sangat penting untuk menutrisi bakteri usus. Orang Amerika sudah jauh di bawah asupan serat yang direkomendasikan setiap hari. Karena serat banyak ditemukan dalam kacang-kacangan, buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian, dan biji-bijian, diet telur dapat memperumit asupan serat yang sudah rendah.

Konsensus umum dalam komunitas medis adalah bahwa diet ini bukanlah cara yang aman untuk menurunkan berat badan. Makan hingga tujuh butir telur seminggu, atau lebih dalam beberapa penelitian, tampaknya aman untuk populasi umum, tanpa efek pada risiko kardiovaskular. Melakukannya sebenarnya dapat mengurangi risiko stroke. Sebuah studi pada tahun 2015 mengkonfirmasi bahwa bahkan beberapa orang dengan diabetes dapat makan telur lebih bebas dari yang diyakini sebelumnya, sekitar 12 per minggu, tanpa memperburuk kadar kolesterol atau kontrol gula darah.

Diet tinggi protein dan rendah karbohidrat seperti pada diet telur rebus, dapat dikaitkan dengan risiko penyakit kardiovaskular yang lebih tinggi. Kerugian dari studi khusus ini adalah tidak mengontrol atau menekankan jenis karbohidrat atau sumber protein.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *